Against My Flaws (Karangan Faksi)
Dona adalah anak yang ceria dan mudah berteman. Ia tidak pernah memilih-milih dalam berteman. Baginya, semua sama saja. Dona tidak pernah melihat orang lain dari latar belakang nya atau karena rupa fisik nya. Ia anak yang periang dan pintar bergaul dengan siapa saja.
Masa kanak-kanak nya dilalui dengan hari-hari penuh kegembiraan. Hingga akhirnya ia beranjak remaja dan akan memasuki jenjang SMP (Sekolah Menengah Pertama). Dona merasa banyak yang berubah di dalam dirinya, terutama fisiknya. Ia menyadari kalau ternyata ia sedang dalam masa pubertas. Bentuk badan berubah, berat badan berubah, bahkan hormon juga mengikuti perubahan pubertas nya.
Dona tidak selincah dulu lagi karena berat badan nya yang sangat tiba-tiba melonjak naik, perubahan fisik nya membuat gerak nya menjadi lamban. Bahkan ia tidak bisa berlari secepat waktu ia masih dalam masa kanak-kanak. Dona remaja menjadi gendut, dan tentu saja itu membuat nya tidak nyaman. Jerawat mulai bertumbuhan di wajah nya yang mulus. Satu-persatu jerawat memenuhi wajahnya. Dona merasa malu dan tidak pantas untuk mendapatkan teman.
Teman-teman Dona yang melihat perubahan fisik nya berubah drastis mulai mengomentari dirinya.
"Dona? Kamu kok gendut banget, sih.."
"Yaampun, Dona! Wajah kamu kenapa jadi hancur begitu.."
"Dona, kamu terlihat seperti monokorobo! Hahaha..."
Mereka berlomba-lomba mencaci fisik Dona yang sudah berubah sangat drastis. Saat Dona mengharapkan masa-masa SMP akan menjadi indah. Namun kenyataannya berbalik, semua terasa sangat berat dan menyakitkan untuknya. Dona mulai menghindar dari gerombolan teman-teman nya, ia mulai memilih-milih teman yang tidak komplein dengan penampilan fisik nya yang sekarang. Teman-teman Dona semakin sedikit, sangat jarang dari mereka yang benar-benar ingin berteman dengan nya. Kebanyakan mereka datang hanya untuk menyalin PR atau minta diajari tugas dengan nya, ya kelebihan Dona perihal kepintaran nya tidak bisa dipungkiri. Dona tetap mendapatkan teman berkat otak nya yang cerdas.
Hari-hari disekolah semakin sepi dan menyedihkan, terlebih kalau pergantian semester yang mengharuskan pindah kelas dan membuat Dona harus beradaptasi lagi. Ia lagi-lagi harus berpisah dengan teman yang benar-benar tulus kepada nya. Kerap kali Dona sendiri, bahkan sampai jam istirahat pun disaat semua pergi ke kantin bersama-sama ia hanya bisa melihat teman-teman nya dari kejauhan. Dona berusaha untuk tidak terlihat dilingkungan sekitarnya, agar ia tidak mendengar cemoohan dari teman-teman nya.
Dona hanya bisa mendengar teman nya berceloteh panjang lebar tentang laki-laki yang disukai nya. Tentang bagaimana kisah cinta monyet mereka berlangsung. Ya, masa-masa ini lah dimana kita mulai tertarik dengan lawan jenis dan merasakan yang dinamakan 'cinta monyet'. Apalah daya, Dona bahkan merasa tidak pantas untuk menyukai lawan jenis nya. Tentu saja dengan penampilan fisik yang seperti itu tidak akan ada yang tertarik dengan nya. Sehari-hari Dona hanya menjadi bahan cemoohan teman laki-laki nya. Mereka seringkali mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas kepada Dona. Bahkan mereka merasa jijik hanya dengan melihat Dona berada dikelas nya.
Tiga tahun Dona lalui hari-hari nya yang berat dan sangat melelahkan. Tidak satupun yang pernah menganggap keberadaan nya. Tidak satupun yang datang karena ingin berteman dengan nya. Tidak satupun yang peduli perihal perasaan nya. Hingga akhirnya Dona memasuki jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu SMA (Sekolah Menengah Atas) tentu nya dengan nilai yang memuaskan. Ia memilih sekolah yang dekat dengan rumah nya, agar hari-hari nya tidak terlalu lelah jika ia harus menahan kesedihan atas cemoohan teman-teman nya. Sewaktu ia duduk dibangku SMP ia memilih sekolah yang jauh dari rumah nya, karena berfikir kalau masa-masa itu akan menjadi seru pulang dan berangkat bersama-sama dengan teman. Namun nyatanya tak ada yang mau jalan dengan Dona si 'monokorobo' julukan nya saat masih di SMP dulu.
Memasuki masa SMA, Dona tidak berekspektasi tinggi seperti saat ia memasuki SMP. Dona tidak banyak berharap, ia hanya akan menjalani hari-hari nya dengan biasa saja. Ia pun sudah semakin terbiasa dengan segala cemoohan orang-orang disekitarnya perihal fisik nya. Saat memasuki SMA-pun, fisik Dona tidak banyak berubah. Mungkin hanya bertambah tinggi saja. Namun badan nya tetap gemuk dan wajah nya masih berjerawat. Seiring berjalannya waktu jerawat Dona semakin banyak dan meradang. Dona tidak paham kenapa jerawat-jerawat nya tidak kunjung menghilang justru semakin bertambah.
Dona berjuang untuk sembuh dari jerawat-jerawat nya. Setiap hari Dona memakai masker hanya untuk menutupi jerawat nya. Dona semakin tidak percaya diri. Bahkan ia sudah menghindari cermin untuk sekadar melihat wajah nya saja ia sudah tidak sanggup. Tentu saja teman-teman SMA nya banyak yang berkomentar perihal jerawat-jerawat nya. Dona memasuki fase terparah ketika berjerawat. Tentu saja ia juga berusaha untuk mengobati jerawat nya. Selama bertahun-tahun sejak ia SMP, ia mencoba segala treatment dan obat yang dipercaya dapat menghilangkan jerawat. Namun nihil, jerawat nya dari hari ke hari tidak kunjung hilang.
Sampai akhirnya Dona menyerah dan memutuskan untuk ke dokter kulit. Untuk menyembuhkan jerawat-jerawat nya, orangtua Dona sudah mengeluarkan biaya hingga jutaan. Terlebih sekarang Dona harus treatment rutin ke dokter kulit. Dalam menghadapi jerawat nya bukan hanya kantong saja yang terkuras, tapi hati juga mesti dikuatkan. Banyak sekali teman-teman nya yang menggunjing ia perihal jerawatnya yang tidak wajar itu. Meski Dona sudah terbiasa dengan hal seperti itu, namun tidak bisa dipungkiri hati Dona sangat sakit saat mengetahui kalau ternyata dirinya memang sejelek yang seperti teman-teman nya katakan.
Hingga akhirnya Dona berhasil memudarkan jerawat-jerawat nya, satu-persatu jerawatnya mulai hilang. Berat badan Dona juga turun lumayan banyak karena ia setres menghadapi jerawat nya dan menahan segala cemoohan selama bertahun-tahun. Dona bersyukur bisa melewati itu semua dengan sangat kuat. Dibalik support kedua orangtuanya yang sangat luar biasa, Dona juga menemukan orang-orang yang datang ke kehidupan nya dengan hati yang tulus. Mereka tidak peduli bentuk rupa Dona seburuk apapun itu. Disaat Dona sudah berhasil memperbaiki rupa fisiknya, orang-orang yang dulu pernah mencemooh nya satu-persatu mulai memujinya. Tapi itu semua tidak membuat Dona tinggi hati dan membalas perbuatan mereka. Dona hanya tersenyum dan merasa cukup dengan bentuk rupa nya yang sekarang.
Dona menyadari bahwa saat kita berada dititik terendah bukan hanya kesedihan saja yang didapat, tapi juga pelajaran berharga yang bisa kita petik dari kejadian itu semua. Dona juga menyadari bahwa masih ada orang-orang yang tidak mengutamakan fisik. Semua kekurangan yang pernah ia rasakan membuat nya merasa sangat bersyukur bisa melalui itu semua dan menemukan orang-orang yang tepat dalam pertemanan nya. Kejadian yang menimpa nya bertahun-tahun membuat Dona belajar untuk tidak mencemooh kekurangan orang lain, terlebih kekurangan fisik yang mereka miliki. Dona menjadi orang yang semakin kuat dan lebih mampu menghargai sesama.
Komentar
Posting Komentar